Tampilkan postingan dengan label Football. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Football. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Agustus 2014

Reuni Dengan Anderson

"Posisi bek tengah, dipercayakan kepada, pemain asing berkulit hitam asal Brazil, siapa lagi kalau bukaan pemain bernomor punggung 26 .  Andersssooon..... Da Silvaaaa"
Seperti itulah yang diteriakan oleh announcer di stadion Mandala Krida Yogyakarta pada tahun 2003 saat PSS berlaga 11 tahun silam.

Awalnya saya tidak tahu, tentang materi pemain Madiun Putra yang akan menjadi lawan PSS kali ini. Namun saat pertandingan berjalan, ada seorang bek asing yang mencuri perhatian saya. Saya  merasa mengenal gaya berlari bek asing Madiun Putra itu, sangat familiar. Gesture tubuhnya saat menendang, berlari, dan men-tackle bola sangat tidak asing di mata ini. Akhirnya rasa penasaran ini saya tanyakan kepada salah satu teman yang duduk disamping saya, dan dia membenarkan "Iya, dia (sambil menunjuk) itu Anderson-nya PSS dulu".

Secara fisik, Anderson memang tidak banyak berubah. Postur badannya hampir mirip seperti waktu masih di PSS dulu, hanya kelincahannya dalam mengawal pergerakan striker sepertinya sudah dimakan usia. Buktinya adalah 4 gol yang besarang ke gawang Madiun Putra pada malam itu. Gol pertama PSS oleh Mudah Yulianto adalah kesalahan Anderson yang kalah duel dengan Mudah Yulianto saat kemelut di depan gawang. Bukan hanya itu, gol keempat PSS yang dicetak oleh Monieaga adalah akibat dari gagalnya Anderson yang mengawal Monieaga. Bahkan sesekali dia dapat dengan mudah dilewati oleh Mudah Yulianto yang pengalamannya sangat jauh dibawah Anderson. Di usianya yang sudah 39 tahun ini Anderson jelas tak lagi se'rapat' dulu.
Diawal debutnya di Indonesia, Anderson langsung berseragam PSS. Anderson berseragam PSS cukup lama, dari tahun 2002 hingga 2007. Selepas dari PSS kabarnya ia berkelana mulai dari Persebaya, Mitra Kukar, Persik Kediri sebelum sekarang dia bermain untuk Madiun Putra. Catatan manis Anderson bersama  PSS ditorehkan pada tahun 2003 dan 2004 saat PSS mampu finish peringkat 4 secara berurutan di Divisi Utama (saat itu divisi utama adalah kasta tertinggi). Anderson bersama para punggawa PSS kala itu seperti Seto N (sekarang pelatih PSIM), Deca Dos Santos, Marcello Braga, Colly Misrun, Mauly Lessy, Suwita Patha dll cukup disegani lawan-lawannya.
Jika mendengar nama Anderson, memori ini pasti akan mengungkit masa-masa jaya PSS dulu bersama trio Brazil. Semoga PSS secepatnya mampu berjaya dan kembali ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia.
Anderson yang sekarang berseragam Madiun Putra mendapat hadiah syal dari supporter PSS
Squad PSS tahun 2003
Anderson da silva (atas- 2 dari kanan) Source


Jumat, 08 Agustus 2014

Giorgio Chiellini : " waw, i really love that they did, i'm just confused about Indonesian know so well about cori"
Ponco : "Giorgio, Indonesian learning cori because they want to show that in GBK Stadium is similar with Juventus Stadium"
Ekspresi Chiellini ketika bilang "waw waw waw amazing"

Sumber


Finally.. Dream comes true!

       Salah satu mimpi seorang fans ataupun supporter adalah bertemu dengan idolanya, dan pada tanggal 6 Agustus 2014 salah satu mimpi saya itu terwujud J. Juventus FC, klub asal Itali yang berdiri sejak 1897 di kota Turin mengadakan Tour Asia Pasifik dan Indonesia adalah tujuan pertama mereka.
       Hotel Four Season Jakarta menjadi hitam-putih! Ratusan Juventini dan wartawan dengan setia menunggu para punggawa Juventus di Hotel Four Season sejak siang. Tak lama kemudian, sang pelatih “Max Allegri” yang (sebenarnya) tidak diterima sebagian juventini ini masuk melalui pintu utama hotel, diikuti talenta asal Perancis “Paul Pogba” dan tentu saja beberapa keamanan dari pihak panitia dan juga dari Itali. Saya yang tidak memiliki press card seharusnya tidak boleh memasuki ruangan press conference, namun dengan sedikit kenekatan, saya dan 2 teman saya berhasil menerobos ke dalam ruang press conference yang penjagaannya tidak ketat itu. Betapa senang kami dapat melihat idola kami secara langsung dan tidak dibatasi oleh layar kaca J
Paul Pogba memasuki lobi Hotel
Press Confrence
       Hari berikutnya, giliran Stadion Umum Gelora Bung Karno yang menjadi hitam-putih. Stadion yang biasa didominasi warna merah, warna kebanggan timnas Indonesia itu berubah menjadi warna hitam-putih warna kebanggan Juventus. Sekitar 60.000 Juventini dari seluruh Indonesia berkumpul menjadi satu di SUGBK. Antrian pun mengular di gate IX, (pintu masuk tiket saya), dengan kesabaran dan sedikit berdesak-desakan akhirnya saya bisa masuk ke stadion terbesar di Indonesia itu. Didalam stadion saya melihat beberapa Giant Flag, Hand banner, dan Spanduk yang membuat SUGBK serasa J-Stadium malam itu. Tak lama saya menunggu, para pemain Juventus masuk ke dalam lapangan diikuti riuh para fans, dan chant menggunakan bahasa Italia. Sambutan luar biasa malam itu dibalas tepuk tanganoleh para pemain juventus.


Antrian Gate IX
Juventini Indonesia di tribun timur

Jalannya pertandingan sudah bisa ditebak, ISL Allstar yang dibentuk dalam waktu 3 hari bukanlah lawan yang sepadan untuk klub pemegang sccudeto 32x tersebut. Meskipun kebobolan diawal pertandingan, 8 gol dari Juventus membakar stadion dan skor akhir adalah 1-8 tentu untuk Juventus.
Beberapa saat sebelum pertandingan selesai, tribun selatan dan timur kembali beraksi, pyro show menjadi penanda akhir perjumpaan kami dengan para pemain juventus. Applause dari pemain juve di akhir pertandingan malam itu menjadi momen yang tak akan saya lupakan.

Applause pemain juve untuk dukungan yang luar biasa
Forza Juve!!

Jumat, 21 Desember 2012

More than just a game


Singkatnya beberapa waktu lalu ada teman yang bertanya kepada saya “kok kamu bisa suka sepakbola sampai segitunya sih?” dengan gampang saya jawab saja “kok kamu bisa tidak suka sepakbola sampai segininya seperti saya sekarang ini?”. Memang saya orang yang cukup royal untuk urusan sepakbola atau membeli merchandise-nya, saya juga bersedia bolos kuliah/sekolah dan mengorbankan hal lain yang menurut sebagian orang lebih penting hanya untuk menemani tim kebanggaan bertanding entah jam berapa dan dimana, saya berusaha sebisa mungkin untuk melihatnya.. Tapi menurut saya itu masih wajar, saya yakin banyak orang-orang diluar sana yang melakukan hal sama dengan yang saya lakukan, bahkan mungkin lebih ‘gila’. Salah satu kelompok pendukung kesebelasan di daerah saya misalnya, mereka menganggap bahwa mendukung kesebelasan sepakbola kebanggan adalah hal yang lebih penting dari apapun. Selama pertandingan suara mereka hanya untuk berteriak selama 2x45 menit untuk mendukung ‘pahlawan’ mereka yang sedang berjuang di lapangan.
Bagi saya kami,  ini lebih dari sekedar permainan 22 orang di lapangan rumput berbentuk persegi panjang dengan 2 buah gawang dan satu bola yang diperebutkan. Ini adalah perpaduan seni, tehnik, kerja keras, kerjasama, dan komunikasi, yang mempertaruhkan gengsi, sejarah, fans, dan gelar. Itu adalah alasan mengapa olahraga ini menjadi begitu indah untuk dinikmati. Terdengar berlebihan? Tapi bagi kami dan sebagian orang di luar sana memang seperti inilah kenyataanya. Kalau memang benar ini hanya sebuah permainan, mungkin Andrés Escobar (pemain Colombia) masih hidup. Andrés Escobar adalah seorang pemain Colombia yang ditembak saat hendak pulang ke rumah oleh orang tak dikenal yang diduga karena Escobar melakukan gol bunuh diri ke gawangnya sendiri yang membuat tim Colombia gagal lolos dari fase grup saat Piala Dunia 94. Si penembak meneriakkan “Gooooool” dengan gaya khas komentator Amerika Latin setiap kali melepaskan tembakan. 

"If there’s no football in heaven, i'm not going", Gregory Van Der Wiel

Andres Escobar saat melakukan gol bunuh diri

Pemakaman Andres Escobar
Banner bergambar Escobar saat Tim Kolombia berlaga